METODE OKSIDASI DAN REDUKSI DALAM PENENTUAN OBAT

 https://youtu.be/qdjG-V3c5FM

Komentar

  1. Pada video dijelaskan metode reduksi ini berguna untuk mengurangi senyawa kimia tertentu dalam sampel obat sehingga produk reduksi yang dihasilkan dapat diukur secara kuantitatif. Pertanyaannya mengapa dalam metode reaksi kimia reduksi harus dilakukan pengurangan senyawa kimia tertentu untuk sampel obat dapat diukur secara kuantitatif dan bagaimana cara melakukan kadar obat secara kuantitatif dalam kimia reduksi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Metode reaksi kimia reduksi digunakan dalam analisis obat untuk mengurangi senyawa kimia tertentu menjadi bentuk yang lebih mudah diukur secara kuantitatif. Tujuan dari pengurangan ini adalah untuk mengubah senyawa kimia obat menjadi bentuk yang mudah diukur, sehingga dapat ditentukan konsentrasinya dalam sampel obat.

      Proses reduksi dapat dilakukan dengan menggunakan agen reduktor, seperti natrium borohidrida atau asam askorbat. Setelah pengurangan senyawa kimia obat, kadar obat dapat diukur secara kuantitatif dengan menggunakan berbagai teknik analisis, seperti spektrofotometri, kromatografi

      Hapus
  2. Dari video materi di atas di jelaskan bahwa metode ini hanya efektif untuk senyawa yang mudah direduksi seperti senyawa yang mengandung gugus aldehid atai keton. Apakah bisa dijelaskan lebih rinci kenapa hanya efektif pada 2 senyawa tersebut dan apa yang mengakibatkan metode ini tidak efektif terhadap senyawa lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gugus aldehid dan keton memiliki ikatan karbon-oksigennya yang polar, sehingga mudah menarik elektron. Hal ini mengakibatkan ikatan karbon-hidrogen di sebelah karbon yang terikat pada oksigen menjadi lebih asam, sehingga lebih mudah terlepas. Logam natrium atau litium dalam amonia cair dapat menyerap elektron dari ikatan C-H tersebut, sehingga terjadi reaksi reduksi dan gugus aldehid atau keton diubah menjadi alkohol.

      Sementara itu, metode reduksi tidak efektif pada senyawa organik lain yang tidak memiliki gugus aldehid atau keton. Misalnya, senyawa aromatik seperti benzena atau toluena tidak mudah direduksi oleh zat reduktor seperti logam natrium atau litium dalam amonia cair. Hal ini disebabkan oleh ikatan aromatik pada senyawa-senyawa ini, yang sangat stabil karena adanya delokalisasi elektron pada cincin aromatik. Oleh karena itu, reaksi reduksi pada senyawa-senyawa ini sangat sulit terjadi.

      Hapus

Posting Komentar